Laporan Kajian Awal: Mengeksplorasi Kondisi Kesejahteraan Itik Petelur dalam Sistem Bebas Sangkar dan Kandang Baterai di Dua Provinsi di Indonesia

  • Home
  • Laporan Kajian Awal: Mengeksplorasi Kondisi Kesejahteraan Itik Petelur dalam Sistem Bebas Sangkar dan Kandang Baterai di Dua Provinsi di Indonesia
Januari 12, 2026 1 Comments

Laporan Kajian Awal: Mengeksplorasi Kondisi Kesejahteraan Itik

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), populasi itik di Indonesia mencapai sekitar 43 juta pada tahun 2024 dengan produksi sekitar 269.310 ton telur itik dan 38.256 ton daging itik. Secara global, Indonesia menempati peringkat keempat dalam hal populasi itik menurut data FAO yang dikutip dari Worldostats. Lima provinsi penghasil telur itik terbesar di Indonesia adalah Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, dan Kalimantan Selatan. Pasar domestik telur itik menunjukkan peningkatan permintaan, dengan proyeksi tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 6,95%, sejalan dengan meningkatnya konsumsi produk itik secara global, terutama di Asia. Melihat potensi ekonomi ini, beberapa peternak itik—khususnya di Kabupaten Blitar dan Daerah Istimewa Yogyakarta—telah mulai beralih dari sistem pemeliharaan tradisional / ekstensif ke sistem kandang baterai sebagai strategi untuk meningkatkan produktivitas. Namun, praktik ini sering kali mengabaikan prinsip-prinsip dasar kesejahteraan hewan.

Across Species Project Indonesia (ASPI) bertujuan meningkatkan kesejahteraan hewan diternakkan, khususnya itik petelur, dengan mendorong praktik peternakan berkelanjutan yang mengutamakan kesejahteraan hewan di Indonesia. Laporan ini merupakan bagian dari upaya ASPI untuk memahami dan meningkatkan kondisi kesejahteraan itik petelur dalam berbagai sistem pemeliharaan. Kami menilai 36 peternakan di Jawa Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta, mencakup sistem kandang baterai (battery cage) dan sistem bebas sangkar (cage-free). Di Jawa Timur, pengumpulan data berfokus di Kabupaten Blitar—wilayah dengan produksi telur itik terbesar di provinsi tersebut, dengan total produksi telur itik di Jawa Timur sebesar 46.572 ton. Penelitian ini mencakup 8 peternakan kandang baterai dan 13 peternakan bebas sangkar yang berasal dari empat kecamatan: Ponggok, Nglegok, Kademangan, dan Wlingi. Di Daerah Istimewa Yogyakarta, provinsi dengan total produksi telur itik sekitar 3.141 ton, studi ini mencakup tiga kabupaten (Kulon Progo, Bantul, dan Sleman), dengan 4 peternakan kandang baterai dan 11 peternakan bebas sangkar.

Studi ini menggunakan pendekatan observasional dan komparatif untuk mengevaluasi kesejahteraan itik petelur dalam dua sistem pemeliharaan utama, yaitu bebas sangkar dan kandang baterai. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan langsung, pengukuran kuantitatif, dokumentasi visual, serta wawancara semi-terstruktur dengan peternak. Baca selengkapnya di laporan lengkap kajian awal kami, di bawah ini:

Infografis Laporan Kajian Awal 2025

Categories:

One Comment

Mei 21, 2025 Reply

Hi,
I would like to connect with the author of this piece and if your organisation has any ongoing project on Duck welfare, I’d appreciate a connect with the same. I work in the Capacity building working group of AfA and we are looking to find meaningful connections for one of the Asia based organisations that has started to work on duck welfare reform in Vietnam.
I will be grateful if someone gets in touch to share from your organisation.

Tinggalkan Balasan ke Sarita Joshi Batalkan balasan